Senin, 16 Februari 2015

Mohon Ampun

Allahu Allah
Kenapa begitu sulit rasanya menjadi benar benar baik di hadapanMu
Berat sangat berat ujian dan cobaan
Bahkan sekedar untuk bertahan di jalanMu
Padahal
Engkau selalu menunjukkan kebesaranMu
Padahal
Aku di kelilingi rahmat dan perlindunganMu
Hanya kenapa ya Rahman ya Rahim
Aku selalu kalah dengan urusan dunia
Pagi siang malam
Aku menangis
Namun ternyata
Apa yang aku tangisi tak lebih dari sekedar urusan dunia
Perasaan tak penting
Hawa yang berbau nafsu menyengsarakan
Cemburu yang jelas tak ada manfaatnya
Allahu Allah
Inikah akibat dari menggantungkan harapan selain kepadaMu
Ampuni hamba

Jumat, 23 Januari 2015

Ulang Tahun

Sungguh aku minta maaf
Aku tak hadir bahkan tak memberi apapun
Aku sama sekali tak mengistimewakan hari istimewamu
Entah harapanmu seperti apa
Pada hari ini
Ada gejolak dalam hati ini
Jika engkau mau mengingat
Pernah terucap kata kata darimu
Jika saja ada yang datang lebih dulu
Apa boleh buat
Itu berarti engkau membuka hati untuk siapa pun
Ini sepenangkapanku
Dan pada hari ini adalah pertanda
Kamu sudah berumur
Dan tak dipungkiri lagi
Akan datang hal hal yang tidak terduga
Semakin kecil peluang keberhasilan harapanku
Pesimis tak bisa di tolak meskipun sekuat tenaga aku melawannya
Maafkan aku
Bukannya aku tak bahagia di hari bahagiamu
Aku hanya berusaha menata hati
Bahkan hingga menit terakhir di hari ini
Aku hanya mengucapkan layaknya orang orang lainnya

Maafkan aku
Tak membuat hari ini seindah yang kamu bayangkan
Hari ulang tahunmu

23 Januari 2015
23:47

Senin, 17 November 2014

sepotong roti

pukul 02.56
pagi buta matahari masih saja malu menampakkan dirinya
aku terbangun
rencanaku pagi ini
sudah terbayang
aku beranjak mempersiapkan segalanya
memasak membuat sepotong roti
sepulang berkunjung ke rumah Allah
aku pun bergegas bersiap siap
menuju tempat
dimana kamu akan bertolak dari kota ini
kota ku dan kota mu
menuju tempat yang akan jadi saksi suksesmu
saksi perjuanganmu
pukul 04.48
aku tiba
perlahan aku sandarkan kendaraanku
melangkah pelan menuju kedalam
duduk termangu entah menunggu apa
bingung tak tau arah
ingin aku menghubungimu
hanya saja keterbatasan finansial
pagi buta sulit mencari toko buka
aku berusaha menghubungimu dengan berbagai cara
hanya saja mungkin engkau terlalu kesal dengan sikapku semalam
kata kataku tadi malam
tak ada respon
aku tak berani bilang bahwa aku menunggumu
dengan sepotong roti dalam kotak
aku hanya bertanya kapan kamu berangkat
masih tetap tak ada respon
ingin aku meminta maaf secara langsung
di dalam aku masih termangu
pikiran dan hatiku
pukul 06.45
lemah lunglai aku melangkah keluar
betapa pengecutnya diri ini
selalu saja menyusahkanmu
selalu saja menyisakan kisah sedih di setiap kepulanganmu
ingin aku saat ini menemuimu untuk sedikit menghapus luka
lagi lagi aku terlalu takut
hanya sanggup menunggu

kini aku hanya sanggup termenung
dengan sepotong roti dalam kotak
aku menulis mencurahkan luapan emosi
kesal aku dengan keadaanku seperti ini
maafkan aku
maaf

sepotong roti ini tetap sepotong roti

Minggu, 09 November 2014

adam dan hawa

wahai engkau putri hawa
titisan makhluk paling lembut yang pernah diciptakan
namun juga rapuh dan lemah
karena engkau
tercipta dari tulang rusuk sang adam
dan aku salah satu dari sekian putra adam
bersabarlah..
wahai sang tulang rusuk
janganlah dikau terlalu bengkok
hingga menusuk hati
janganlah engkau meragukan semua usahaku
karena sesegera mungkin
putra adam ini akan menjemputmu
meluruskan yang bengkok
menjaganya agar tidak patah dan rusak
karena aku tahu
dirimu begitu lembut juga rapuh
sungguh tanggung jawab yang sangat besar
bagi putra adam untuk menjagamu
melanjutkan perjuangan dua malaikat pelindungmu
ayah dan ibu
menjaga dari segala marabahaya yang dapat melukaimu
dengan yakin dan mantap
putra adam akan mendapatkan kembali tulang rusuknya yang hilang
selain itu
untuk menyambut datangnya orang terbaik yang selalu diharapkan
perlu persiapan matang dan keadaan yang terbaik pula
kelak akan kukatakan  pada kedua malaikatmu
bahwa,
engkaulah wahai tulang rusukku
tidak peduli seberapa bengkok dirimu
tidak peduli seberapa rapuh dirimu
engkaulah yang terbaik
kembalilah padaku wahai tulang rusuk adam yang hilang
mari bersaksi dihadapanNya
kita lah adam dan hawa yang kembali di pertemukan

Senin, 03 November 2014

AKU KAMU KITA

Kamu tau di usiaku yang sebesar ini aku banyak melihat dunia yang sekarang begitu indah,  indah namun menipu. Ya itulah dunia. Sempat terlena dan bahkan mungkin sering aku terlena dalam indahnya dunia.  Larut dalam berbagai urusan dunia,  hingga lupa akan sang pencipta dari segala keindahan ini.Tak banyak yang sudah aku perbuat untuk kehidupanku. Masa remajaku tak semanis dan seindah masa remaja yang diharapkan.  Masa SMA ku adalah masa paling kelam  terutama di awal hingga pertengahan. Aku terjebak,  karena mengenalnya.  Membuat semua konsentrasiku untuk masa mudaku buyar.
Semua itu bebeda semenjak aku mengenalmu,  muncul rasa kagum dalam hati akan tekad baikmu. Aku mulai membuka mata,  aku mulai bangun dari tidurku akan tipu daya dunia. Aku mulai ingat akan siapa pencipta semuanya,  penciptamu yang membuatmu begitu sempurna dan indah. Setiap melihatmu aku pun melihat diri sendiri.  Ada semangat tersendiri untuk memperbaiki diri,  karena di saat aku mengingatmu aku pun mengingatNya.
Waktu begitu cepat berlalu tak terasa sudah beberapa tahun aku mengenalmu,  menjalin komunikasi serta berbagi cerita.  Naik turun memang,  ada saat dimana kita baik baik saja. Adapula saat dimana kita bertengkar. Memang itulah hal lumrah yang sering terjadi diantara aku dan kamu. Banyak pelajaran yang aku dapat darimu. Bahagia memang rasanya.
Mulai tumbuh harapan harapan kecil dalam hati,  yang mana tumbuh dan bertumpuk menjadi harapan yang begitu besar. Impian yang sering terbayang dalam anganku,  hanya dalam anganku saat ini. Dengan percaya dirinya aku ceritakan soal rasaku ini kepadamu.  Seolah yakin kalau kamu punya rasa yang sama. Arogan memang,  ambisius ya aku terlalu berambisi besar. Sampai tak sadar bahwa kamu punya hati yang memang bukan hakku untuk mengatur dan memaksa.  Hingga lupa bahwa kamu berhak atas hatimu.  Lupa bahwa banyak orang hebat lainnya yang jauh lebih hebat dariku yang mengagumi bahkan punya rasa yang sama sepertiku denganmu. Dimana aku tak lagi berdaya di hadapan mereka entah siapapun itu.
Sulit memang menekan harapan yang membumbung tinggi,  sakit memang ketika tau kenyataan melenceng dari harapan.  Pernah aku berkata dan bertekad mendatangimu dengan tujuan yang lain setelah dua tahun kuran lebih aku berusaha.  Hingga saat ini hal itu masih terpatri,  tertancap kuat dalam hati dan pikiran. Namun ketika aku jatuh tersungkur ketika menjalani usaha ini,  bayangan kegagalnku itu semakin besar.  Takut dan khawaatir. Hanya sanggup aku berdoa atas kelancaran usahaku serta tercapainya target dan tekadku. 
Kembali kepada kenyataan bahwa banyak orang hebat yang kagum kepadamu. Itu menambah daftar  faktor kekhawatiranku.  Semua itu masih menyimpan misteri.  Bahkan beberapa dari tulisanmu menimbulkan pertanyaan bagiku. dan ya mungkin memang itu akan tetap menjadi misteri bagiku.  Aku hanya bisa menduga dan menebak.  Toh yang penting saat ini adalah aku harus fokus pada diri sendiri. Bekerja keras,  usaha dan berdoa demi ketercapaian target yang telah dibuat.
Aku tepikan semua hal yang tidak berkaitan dengan harapan harapanku.  Semua demi terwujudnya AKU KAMU KITA. 



Aku serius soal rasaku

kamu itu aku

Inilah puncak dari segala kegundahanmu
Dimana banyak luka hati yang kamu dapat
Tidurmu tak lagi tenang
Sekedar makan dengan nikmat pun tidak
Setiap hembusan nafas sangat berarti bagimu
Tetesan air mata selalu iringi langkahmu
Hatimu terluka
Ya hatimu memang sedang terluka
Sangat mudah bagimu memberikan harapan
Kepada siapapun
Kepada apapun
Hingga lupa bahwa kamu telah melambung tinggi
Membumbung tinggi setinggi langit
Ketika jatuh sakit amat sangat kamu dapat
Harapanmu pada saudaramu
Harapanmu pada ayahmu
Harapanmu pada usahamu
Hingga harapanmu padanya
Semuanya kamu berikan harapan itu
Seluruhnya
Seolah tak mau melihat kenyataan
Bahwa harapanmu itu
Hanya semu

Jumat, 31 Oktober 2014

sosok paling berwibawa dalam hidupku
salah satu seseorang yang paling aku pandang dalam kehidupanku
meskipun kini jarang aku berjumpa dengannya
hanya mendengar suaranya
hanya masa laluku yang menyisakan kisahku dengannya
itupun di selimuti berbagai permasalahan
sehingga sedikit kesempatanku bersua, bercanda, bercerita kepadanya
sampai tiba saatnya waktu dan jarak membuat aku terpisah dengannya
hingga saat ini
hanya beberapa kali aku berjumpa lagi
namun berbeda dengan dahulu
ada rasa canggung dalam hati ketika ingin bermanja ria dengannya
karena aku merasa sudah besar
karena aku laki laki
secuil kisahku dengannya
pernah aku melihatnya di hajar oleh orang asing
karena fitnah
aku hanya sanggup melihatnya dari balik pintu
melihatnya dari lubang surat dibawah pintu
hanya sanggup menangis keras dan mendobrak pintu
pintu terkunci
tak kuasa aku membantunya
melihatnya berdarah darah
aku tak bisa berbuat apa apa
ingin rasanya aku membunuh orang asing itu
lagi lagi kuasaku masih terbatas
sedikit memang kenangan yang kulalui bersamanya


taukah bahwa beliau tidak pernah merasakan bangku sekolah
kecuali hanya sampai kelas dua sekolah dasar
sedikit fakta tentangnya bahwa latar belakangnya bukan lah orang yang berpendidikan
tak ada sertifikat, ijazah maupu piagam yang dimiliki
kehidupannya sangat keras sejak beliau kecil
merantau ke negeri seberang
sejak lama
walau terkadang muncul rasa marah karena aku lama tak berjumpa beliau
walau terkadang muncul rasa tak terima
karena aku pun punya keinginan untuk berbagi masalah tentang sekoah, kuliah, remaja, pekerjaan dan lain lain kepadanya
layaknya kawan kawanku lainnya yang bercerita pada sosok yang mereka banggakan msing masing
namun masa lalunya lah yang membatasi itu
walaupun begitu tetaplah beliau sosok pria nomor satu dalam hidupku
dalam anganku aku selalu membayangkan
aku sedang mengadu kepadanya tentang berbagai permasalahanku termasuk permasalahan cinta dan hati
yang sering membuatku gelisah
dalam mimpi tidurku aku selalu terbayang berbicara empat mata dengannya
berkeluh kesah padanya
menangis dalam pelukannya
meskipun semua hanya bayangan dan mimpi
aku tetap bahagia
tersenyum dalam tangisan

ketika mengingat keadaanya saat ini
sakit rasanya
karena aku masih seperti dulu
tak sanggup berbuat apa apa
aku sangat mengharapkan kehadirannya
saat rasa seperti ini muncul
hati tersayat perih
hanya memejamkan mata yang kulakukan
seiring menitiknya air dari pelupuk mata
guna mengurangi dan meredam rasa sakit