Senin, 17 November 2014

sepotong roti

pukul 02.56
pagi buta matahari masih saja malu menampakkan dirinya
aku terbangun
rencanaku pagi ini
sudah terbayang
aku beranjak mempersiapkan segalanya
memasak membuat sepotong roti
sepulang berkunjung ke rumah Allah
aku pun bergegas bersiap siap
menuju tempat
dimana kamu akan bertolak dari kota ini
kota ku dan kota mu
menuju tempat yang akan jadi saksi suksesmu
saksi perjuanganmu
pukul 04.48
aku tiba
perlahan aku sandarkan kendaraanku
melangkah pelan menuju kedalam
duduk termangu entah menunggu apa
bingung tak tau arah
ingin aku menghubungimu
hanya saja keterbatasan finansial
pagi buta sulit mencari toko buka
aku berusaha menghubungimu dengan berbagai cara
hanya saja mungkin engkau terlalu kesal dengan sikapku semalam
kata kataku tadi malam
tak ada respon
aku tak berani bilang bahwa aku menunggumu
dengan sepotong roti dalam kotak
aku hanya bertanya kapan kamu berangkat
masih tetap tak ada respon
ingin aku meminta maaf secara langsung
di dalam aku masih termangu
pikiran dan hatiku
pukul 06.45
lemah lunglai aku melangkah keluar
betapa pengecutnya diri ini
selalu saja menyusahkanmu
selalu saja menyisakan kisah sedih di setiap kepulanganmu
ingin aku saat ini menemuimu untuk sedikit menghapus luka
lagi lagi aku terlalu takut
hanya sanggup menunggu

kini aku hanya sanggup termenung
dengan sepotong roti dalam kotak
aku menulis mencurahkan luapan emosi
kesal aku dengan keadaanku seperti ini
maafkan aku
maaf

sepotong roti ini tetap sepotong roti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar